Tampilkan postingan dengan label IBRAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label IBRAH. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 Januari 2012

Perjalanan Seekor Burung Pipit

Ketika musim kemarau baru saja mulai, seekor Burung Pipit mulai merasakan tubuhnya kepanasan, lalu mengumpat pada lingkungan yang dituduhnya tidak bersahabat. Dia lalu memutuskan untuk meninggalkan tempat yang sejak dahulu menjadi habitatnya, terbang jauh ke utara yang konon kabarnya, udara disana selalu dingin dan sejuk.
Benar, pelan-pelan dia merasakan kesejukan udara, makin ke utara makin sejuk, dia semakin bersemangat memacu terbangnya lebih ke utara lagi. Terbawa oleh nafsu, dia tak merasakan sayapnya yang mulai tertempel salju, makin lama makin tebal, dan akhirnya dia jatuh ke tanah karena tubuhnya terbungkus salju. Sampai ke tanah, salju yang menempel di sayapnya justru bertambah tebal. Si Burung pipit tak mampu berbuat apa apa, menyangka bahwa riwayatnya telah tamat.
Dia merintih menyesali nasibnya. Mendengar suara rintihan, seekor Kerbau yang kebetulan lewat datang menghampirinya. Namun si burung kecewa mengapa yang datang hanya seekor Kerbau, dia menghardik si Kerbau agar menjauh dan mengatakan bahwa makhluk yang to lol tak mungkin mampu berbuat sesuatu untuk menolongnya.
Si Kerbau tidak banyak bicara, dia hanya berdiri, kemudian kencing tepat diatas burung tersebut. Si Burung Pipit semakin marah dan memaki-maki si Kerbau. Lagi-lagi si Kerbau tidak bicara, dia maju satu langkah lagi, dan
mengeluarkan kotoran ke atas tubuh si burung. Seketika itu si Burung tidak dapat bicara karena tertimbun kotoran kerbau. Si Burung mengira lagi bahwa dia akan mati karena tak bisa bernapas.
Namun perlahan lahan, dia merasakan kehangatan, salju yang membeku pada bulunya pelan-pelan meleleh oleh hangatnya kotoran kerbau, dia dapat bernapas lega dan melihat kembali langit yang cerah. Si Burung Pipit berteriak kegirangan, bernyanyi keras sepuas puas-puasnya.
Mendengar ada suara burung bernyanyi, seekor anak kucing menghampiri sumber suara, mengulurkan tangannya, mengais tubuh si burung dan kemudian menimang nimang, menjilati, mengelus dan membersihkan sisa-sisa salju yang masih menempel pada bulu si burung. Begitu bulunya bersih, si Burung bernyanyi dan menari kegirangan, dia mengira telah mendapatkan teman yang ramah dan baik hati.
Namun apa yang terjadi kemudian, seketika itu juga dunia terasa gelap gulita bagi si Burung, dan tamatlah riwayat si Burung Pipit ditelan oleh si Kucing.
***
Dari kisah ini, banyak pesan moral yang dapat dipakai sebagai pelajaran, diantaranya :
1. Halaman tetangga yang nampak lebih hijau, belum tentu cocok buat kita.
2. Baik dan buruknya penampilan, jangan dipakai sebagai satu-satunya ukuran.
3. Apa yang pada mulanya terasa pahit dan tidak enak, kadang-kadang bisa berbalik membawa hikmah yang menyenangkan, dan demikian pula sebaliknya.
4. Ketika kita baru saja mendapatkan kenikmatan, jangan lupa dan jangan terburu nafsu, agar tidak kebablasan.
5. Waspadalah terhadap orang yang memberikan janji yang berlebihan.

Kamis, 29 Desember 2011

Muhasabah Akhir Tahun

Apa yang telah kita lakukan sepanjang tahun ini? Lalu apa sebaiknya rencana tahun mendatang? Sudah sampai dimanakah perjalanan hidup kita untuk meraih visi hidup ini? Muhasabah atau evaluasi diri seperti itulah yang harus kita lakukan, jika tidak ingin hidup merugi.
Saat seorang diminta membayangkan visi hidupnya, seringkali yang tergambar adalah visi dunia saja. Bayangan kesuksesan pun dengan ukuran dan kriteria dunia. Punya rumah besar, penghasilan tinggi, kendaraan mewah, dan bisa bersenang- senang. Bila seorang politisi yang terbayang berkantor di Senayan atau Istana Merdeka. Kalau pegawai berharap kelak menduduki jabatan strategis dengan fasilitas dan penghasilan berlimpah. Atau jika pengusaha, menjadi konglomerat dengan kekayaan yang tak terkira.
Boleh saja kita berusaha meraihnya. Dan tak ada larangan juga kita menikmatinya. Namun jangan lupa sisi lain hidup ini. Dari berbagai impian dunia yang kita kejar tadi, cobalah tarik ke belakang sedikit saja. Bahwa hidup kita ini, pasti ujung akhirnya adalah kematian. Agar seimbang, tidakkah kita perlu juga menggambarkan saat- saat akhir hidup kita? Rasanya akan lebih pas dan cerdas jika malam tahun baru ini bukan untuk pesta pora namun untuk tafakkur dan muhasabah; sudahkah kita siap menghadapi maut yang akan menjemput? Apa bekal yang telah kita siapkan menghadapinya?
Manusia yang paling cerdas adalah yang paling banyak mengingat mati serta terbanyak persiapan menghadapinya. (Riwayat Ibnu Majah)
Sakaratul Maut
Sayup-sayup renungi lantunan nasyid tentang kematian ini. “Bila Izrail datang  memanggil, jasad terbujur di pembaringan. Seluruh tubuh akan menggigil, sekujur badan kan kedinginan.”
Bayangkan saat Anda terkulai menghadapi sakaratul maut di ujung kehidupan. Tarikan nafas naik turun terasa sesak dan tersengal. Badan lemah lunglai. Haus, lapar. Air setetes pun tak lagi bisa masuk dalam tenggorokan.  Akhirnya sang nyawa pun pergi tak dapat dicegah. Dan anak istri hanya bisa melepas kepergian Anda dengan sedih berlinang air mata.
Kalau Anda seorang politisi, saat menghadapi beratnya sakaratul maut itu, apa yang dapat Anda pikirkan? Para pengikut yang sekian lama Anda banggakan, tak akan dapat menghalangi datangnya maut. Anda demikian lemah dan tak berdaya. Kenikmatan dunia sekian lama itu pun pupus seiring dengan ujung hembusan nafas Anda.
Jika Anda seorang pejabat, kematian pun tak akan bimbang dengan Anda. Malaikat maut tanpa sungkan sedikit pun merogoh ruh Anda untuk mencabutnya. Dan saat kritis itu terjadi, lidah pun kelu. Jabatan kebanggan itu pun menguap begitu saja. Apa desahan terakhir Anda?
Bila Anda seorang pengusaha, sang maut pun tak mau ditunda meski dengan seluruh uang Anda. Tubuh dari tanah dan akan kembali ke tanah. Saat tubuh Anda terbujur kaku di pembaringan, apa kekayaan yang masih dapat Anda bawa? Hanya lembaran kain kafan. Tidakkah Anda bersiap dengan datangnya kepastian ini?
Saat sakaratul menjemput, sedang bagaimana keadaan diri ini? Tersenyum karena cinta dan ridha dengan Allah ataukah terbelalak ngeri? Di tengah kepanikan itu masih bisakah lisan kita berucap kalimat tauhid; Laa ilaaha illallah. Khusnul khatimah atau suul khatimah?
Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan. (Al Anbiyaa [21]: 35)
Visi Akhirat
Meski kematian itu demikian tragisnya, namun  ia bukan akhir segalanya. Nasib manusia tidak berakhir di liang lahat begitu saja habis perkara. Masih ada perjalanan hidup selanjutnya. Itu sangat tergantung pada amal kita. Semua yang kita bicarakan dan lakukan sepanjang hidup ini ‘disadap’ habis tak ada yang tertinggal sebagai bukti di pengadilan Ilahi kelak. Visi dunia yang telah kita canangkan memang perlu, tetapi jangan lupa visi akhirat yang abadi.
Seorang yang tak memiliki visi akhirat, yang terbayang dalam hidup ini adalah gambaran kenikmatan dunia saja. Tak sedikit pun resiko akhirat yang tergambar dalam benaknya. Dalam maksiat, yang terbayang kesenangan, bukan panasnya api neraka. Na’udzubillahi min dzalik.
Kamu akan dikembalikan kepada Dzat yang Maha Mengetahui yang gaib dan yang nyata, kemudian akan diterangkan kepada kalian tentang apa saja yang telah kalian kerjakan. (Al-Jumu’ah [62] : 8)
Bayangkan dengan amal perbuatan kita saat ini. Bila ajal menjemput akankah Allah menyambut kita dengan tersenyum ridha? Ataukah murka karena kita tak pernah sudi  mengenal- Nya? Akankah kita di masukkan dalam sorga- Nya? Atau tertunduk hina diseret malaikat ke neraka-Nya karena perbuatan dosa yang menggelayut jiwa? Na’udzubillah.
Tidakkah sejak dini kau bersiap diri? Bila kau begitu menjaga hubungan dengan kolegamu untuk duniamu, tidakkah hatimu terpanggil menjalin hubungan dekat dengan Tuhan-Mu? Kalau kau tidak sayang mengeluarkan uang banyak untuk kesenanganmu, tidakkah kau merasakan pentingnya berkorban dan berinvestasi untuk akhiratmu? Kalau hidup kita berpaling dari Allah, akan sempitlah hidup ini.
Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya bagi mereka penghidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. (Thaha [20]: 124)
Mumpung masih diberi umur, raihlah visi akhirat itu sejak sekarang. Mendekatlah dengan Allah dan jalin hubungan yang kian mesra  dengan-Nya. Saat adzan berkumandang, penuhi undangan-Nya dengan senyum syukur. Basuh dan sucikan jiwa ini untuk ruku' dan sujud dengan penuh khusyu' dan ridha kepada- Nya. Semoga dengan begitu, Dia pun ridha menerima kita.
Dalam hubungan dengan sesama sehari- hari, perbanyaklah amal shalih. Bukan semata berpikir apa yang dapat saya nikmati tetapi bisakah saya berbagi. Jika Anda seorang politisi, curahkan waktu dan tenaga untuk membela ummat. Jika Anda mendapat amanah jabatan, jadikan ia ladang melayani rakyat. Atau bila Anda pengusaha, berbagilah dengan sesama atas anugerah Allah yang dialirkan lewat Anda.
Bila kita senantiasa beramal mencari ridha- Nya, Allah pun berkenan menurunkan rahmat dan ampunan dalam hidup ini. Dan dengan istiqamah di jalan-Nya, kematian pun bukan sebuah kengerian. Namun pintu menjemput kebahagiaan yang hakiki. Kita diundang memasuki sorga- Nya bersama hamba- hamba-Nya yang shalih dan disambut salam- Tuhan Yang Maha Penyayang.
Sesungguhnya penghuni syurga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan (mereka). Mereka dan isteri-isteri mereka berada dalam tempat yang teduh, bertelekan di atas dipan-dipan. Di syurga itu mereka memperoleh buah-buahan dan memperoleh apa yang mereka minta. (Kepada mereka dikatakan): "Salam", sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang. (Yasiin [35]: 55- 58)
Bahagia dunia akhirat. Itulah visi yang hendaknya kita tanamkan dalam tafakkur dan muhasabah pergantian tahun ini. (Ust. Hanif Hanan)

Selasa, 04 Oktober 2011

Sebelum Waktu Kita Usai…

Allah Ta’ala berfirman, yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa menyiapkan bekalnya untuk hari esok (Hari Kiamat). Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala hal yang engkau kerjakan.” (Qs. Al-Hasyr: 18)

Jika ada jual-beli yang paling menguntungkan di dunia, maka itu adalah jual-beli antara orang-orang yang beriman dengan Allah. Dalam perdagangan tersebut, Allah memberi manusia sebuah modal yang sangat mahal dan tak ternilai harganya, yang dengannya manusia menjalani kehidupannya di muka bumi. Di antara mereka ada yang cerdas dalam berdagang sehingga akhirnya memperoleh keuntungan yang luar biasa. Akan tetapi, ternyata ada pula di antara mereka yang tak pandai berdagang sehingga sungguh merugilah perdagangannya. Sungguh kenyataan yang menyedihkan.

Allah telah memberi modal yang sama kepada setiap orang berupa waktu 24 jam dalam sehari, 7 hari dalam seminggu, 30 hari dalam sebulan, dan 12 bulan dalam setahun. Jika setiap orang mempunyai modal yang sama, bagaimana caranya agar kita menjadi pedagang yang memperoleh keuntungan luar biasa di akhir perdagangan ini?? Peliharalah waktu dengan baik. Itu kuncinya!!

Apa Makna “Mengelola Waktu”?

Terlebih dahulu mari kita luruskan persepsi kita mengenai pengelolaan waktu.

Saudariku, menurutmu apa persepsi “pandai mengelola waktu”? Apakah orang yang pandai mengelola waktu adalah orang yang waktunya habis untuk menekuni pelajaran-pelajaran kuliah? Ataukah orang yang sibuk bekerja dan mendapat uang yang banyak? Ataukah orang yang sibuk berorganisasi? Ataukah mereka yang lelah dan letih berpeluh berkeringat semata-mata untuk dunia?

Semoga jawabanmu bukan itu. Jika jawabanmu seperti itu, maka mari kita simak penjelasan berikut ini:

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam memgang pundakku, lalu bersabda, ‘Jadikanlah engkau di dunia ini seakan-akan sebagai orang asing atau pengembara.’” Lalu Ibnu `Umar radhiyallahu `anhu berkata, “Jika engkau di waktu sore, maka janganlah engkau menunggu pagi, dan jika engkau di waktu pagi, maka jangnlah menunggu sore, dan pergunakanlah waktu sehatmu sebelum engkau sakit dan waktu hidupmu sebelum kamu mati.” (HR. Bukhari).

Seorang ulama yaitu Ibnu Daqiq Al-`Id menjelaskan hadits tersebut dengan sangat indah,
“Kalimat “pergunakanlah waktu sehatmu sebelum engkau sakit” adalah perintah kepada kita untuk memanfaatkan kesehatan kita dan berusaha dengan penuh kesungguhan selama masa itu, karena khawatir bertemu dengan masa sakit yang dapat merintangi usaha untuk beramal. Begitu pula “waktu hidupmu sebelum engkau mati” mengingatkan agar memanfaatkan masa hidup kita, karena barangsiapa mati, amalnya terputus dan angan-angannya lenyap, serta akan muncul penyesalan yang berat karena kelengahannya meninggalkan kebaikan. Hendaklah ia menyadari bahwa ia akan menghadapi masa yang panjang di alam kubur, sedangkan ia tidak dapat beramal dan tidak mungkin dapat beribadah kepada Allah lagi di alam kubur. Oleh karena itu, hendaklah ia memanfaatkan seluruh masa hidupnya itu untuk berbuat kebajikan.

Ali bin Abi Thalib berkata, ‘Dunia berjalan meninggalkan (manusia) sedangkan akhirat berjalan menjemput (manusia) dan masing-masing mempunyai penggemar, karena itu jadilah engkau penggemar akhirat dan jangan menjadi penggemar dunia. Sesungguhnya masa ini (hidup di dunia adalah masa beramal bukan masa pembalasan, sedangkan esok (hari akhirat) adalah masa pembalasan bukan masa beramal.’

Seseorang hendaknya mempersedikit angan-angannya karena takut ajalnya akan datang dengan tiba-tiba serta selalu ingat bahwa ajalnya telah dekat. Barang siapa yang mengabaikan ajalnya, maka patutlah dia didatangi ajalnya degan tiba-tiba dan diserang ketika ia dalam keadaan terpedaya dan lengah, karena manusia sering terpedaya oleh angan-angannya akan (kesenangan dunia).”

Wahai saudariku, bagaimana tanggapanmu setelah membaca penuturan Ibnu Daqiq Al-`Id di atas. Semoga kini pandanganmu tentang hidup dan waktu telah berubah. Ya, engkau benar, bahwa modal yang dikaruniakan Allah kepada kita berupa waktu haruslah kita manfaatkan sebesar-besarnya untuk mengejar akhirat.

Meskipun demikian, bukan berarti kita sama sekali tidak mengurusi dunia kita. Akan tetapi, kita mengurusinya sebatas kebutuhan dan jangan sampai seumur hidup kita habis untuk mencari uang. Padahal makan dan minum, tempat tinggal, pakaian, dan kebutuhan hidup telah tercukupi. Jangan pula kita habiskan hidup ini untuk mengejar jabatan, kedudukan, karir dan prestasi duniawi, sedangkan persoalan mendasar dalam agama justru kita sepelekan. Sungguh merupakan pengaturan waktu yang buruk ketika seorang muslim menghabiskan hampir seluruh waktunya dalam sehari untuk dunia sedangkan waktu untuk mengurusi akhiratnya hanya dia sisihkan dari sisa-sisa waktu yang terselip.

Lalu, bagaimana seharusnya cara mengelola waktu yang benar?

Pengelolaan waktu pastinya berbeda setiap orang, namun ada cara pengelolaan waktu secara umum yang insya Allah dapat diterapkan setiap orang.

1. Siapkanlah buku agenda, catatan, atau yang sejenisnya untuk menyusun jadwal harian. Catatlah jadwal kegiatan harian dan evaluasilah. Sudahkah rencana itu dikerjakan? Jika tidak, mengapa tidak dikerjakan? Apakah karena faktor kemalasan atau faktor lain yang tidak bisa kita hindari?
2. Bagilah waktumu dalam tiga pembagian besar: pagi (jam 03.00-12.00), siang (jam 12.00-18.00), dan malam (jam 18.00-03.00).
3. Pagi hari (jam 03.00) dapat kita gunakan untuk shalat tahajjud, menghafal Al-Qur’an, bermunajat kepada Allah, dan mengevaluasi diri. Saat waktu shubuh tiba, kita bisa segera shalat kemudian mandi dan mempersiapkan aktifitas di hari itu. Jam 05.30-06.30 bisa digunakan untuk mempelajari ulang ilmu-ilmu agama. Semoga bisa menjadi bekal menjalani hari. Selanjutnya hingga siang, kita bisa menyelesaikan berbagai urusan.
4. Pagi hingga siang hari biasanya merupakan waktu yang padat aktifitas, maka pandailah dalam mengelola waktu. Saat berjalan kaki, jangan lupa sembari berdzikir. Jika sedang istirahat atau ada waktu luang sekitar 15 menit, bukalah Al-Qur’an, buku hadits yang ringkas, atau buku agama lainnya. Waktu luang yang singkat tersebut juga bisa kita manfaatkan dengan mendengarkan kaset murottal Al-Qur’an atau rekaman ta`lim. Semoga Allah memberi taufik kepada kita untuk dapat memanfaatkan waktu dengan baik.
5. Pada waktu sore, sempatkanlah untuk menghadiri majelis ta’lim. Bagaimanapun juga jiwa membutuhkan makanan dan jika jiwa tak memperoleh makanan tentu dia akan sakit merana dan bisa mati tanpa kita duga!6. Pada malam hari, setelah menyelesaikan pekerjaan yang perlu diselesaikan, ulangilah kembali pelajaran ta`lim yang tadi sore diperoleh. Sesungguhnya ilmu dicari untuk diamalkan, bukan hanya untuk menambah tumpukan catatan. Jangan lupa mengevaluasi diri (muhasabah) sebelum tidur. Perbanyaklah istighfar dan dzikir kepada Allah.

Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat. Aamiin.

Rabu, 20 April 2011

itu bukan CINTA

Jika kamu tak bisa melepaskan pandanganmu darinya itu bukan CINTA Tapi KAGUM

Jika kamu merasa betah berlama-lama dan berbagi cerita dengannya Itu bukan CINTA tapi KESEPIAN

Jika kamu bersedia mengorbankan segala hal demi menyenangkan dirinya itu bukan CINTA Tapi KEMURAHAN HATI Jika kamu menerima pernyataan cintanya hanya karena kamu tidak ingin menyakiti perasaanya itu bukan CINTA tapi KASIHAN



Jika kamu tidak bisa berhenti memegang dan merabanya itu bukan CINTA Tapi NAFSU

Jika kamu mengatakan kepadanya bahwa dialah satu-satunya hal di dunia ini yang kamu pikirkan Itu bukan CINTA Tapi GOMBAL

Jika Kamu tersenyum dikala ia bahagia dan menangis dikala ia terluka itu bukan CINTA Tapi EMPATI

cinta adalah bahasa sederhana seperti kata yang tak tersampai diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu

cinta adalah bahasa sederhana seperti isyarat yang tak sampai dikirimkan awan kepada angin yang menjadikannya hujan

CINTA adalah kematian atas egoisme dan egosentrisme menyakitkan kadang namun itulah harga yang pantas diberikan untuk sebuah CINTA

karena inti dari CINTA hakikat menCINTAi bukan merubah apa yang kita CINTAi menjadi seperti apa yang kita inginkan namun membiarkannya menjadi dirinya sendiri jika tidak kita hanya akan menemukan bayangan impian yang berusaha kita cocokkan dengan dirinya

CINTA itu sesuatu yang fitrawi Karena CINTA lah kita bisa menghirup segarnya udara dunia karena CINTA lah kita bisa menikmati indahnya pelangi namun bukan berarti Kita boleh menghalalkan segala sesuatu demi impian yang ingin kita raih demi pencapaian ambisi pribadi lantas mengatasnamakan cinta

Saudaraku Cintai lah Allah Cintailah dzat yang meminjamkan kita nafas kehidupan yang selalu dengan setia menunggu sapa cinta kita yang tak pernah berkurang kadar cintanya yang tak pernah letih mendengar keluh kesah Hambanya meski terkadang kita lupa megagungkan asma-Nya

Saudaraku jika ada segenggam CINTA yang kita miliki maka seyogyanya CINTA itu kita berikan kepada sang Kuasa Bukan menduakannya dengan mahluknya yang lemah Berikanlah sepenuhnya Cintamu kepada-Nya Dan biarkan yang Maha Adil membaginya dengan Bijaksana sandarkanlah selalu cintamu pada-Nya

Jumat, 15 April 2011

Jangan Bilang Cinta

Ya, jangan bilang cinta kalo kita masih setengah hati mencintai. Jangan pernah ucapkan kata cinta jika kita masih tak bisa memberikan pengorbanan terbesar dalam hidup kita demi yang kita cintai. Jangan sampe keluar kata cinta jika kita tak berani membela yang kita cintai. Sebab, cinta bukan hanya ucapan yang manis di bibir, bukan kata yang kedengarannya indah di telinga, dan bukan pula tulisan yang membuat kita merasa bahagia. Bukan hanya itu. Karena cinta harus diwujudkan dalam perilaku. �Kalimah sakti� itu harus tercermin dalam perbuatan dan pikiran. Sekali berani bilang cinta, maka seharusnya kita akan berani berkorban, berani membela, berani bertanggung jawab terhadap apa yang kita cintai.
Sobat muda muslim, tolong jangan menggombal atas nama cinta. Jangan pula pura-pura jadi orang yang penuh cinta dengan menipu diri karena sejatinya kita belum sepenuhnya mencintai apa yang kita cintai. Cinta itu bukan main-main, cinta adalah wujud dari keseriusan kita bahwa kita akan berusaha melakukan apa saja demi yang kita cintai. Kalo kita mengecewakan yang kita cintai, tentunya cinta kita palsu. Kalo kita mengkhianati apa yang kita cintai, tentunya bukan cinta sejati. Sebab, jika benar-benar cinta kepada apa yang kita cintai, kita nggak bakalan mengecewakan apalagi mengkhianatinya. Tul nggak sih?
Jangan bilang cinta kepada Allah, jika�
Jika kita masih melanggar aturanNya. Sungguh sangat aneh jika kita berani mengatakan cinta kepada Allah, sementara kita doyan alias hobi banget menolak perintahNya, sementara laranganNya malah kita lakukan. Pastinya ada yang error alias tulalit kalo kita bilang: �Aku cinta kepada Allah Swt.�, tapi dalam kelakuan kita nggak mencerminkan kecintaan kita kepadaNya.
Misalnya nih, meski sholat rajin dan puasa rajin, tapi perintah Allah Swt. yang lainnya seperti menutup aurat kalo keluar rumah nggak kita lakukan. Anak cewek yang tertutup rapat dengan kain mukena ketika sholat, seharusnya menutup rapat auratnya pula ketika keluar rumah. Seringnya kan nggak ya. Rapi pada saat sholat, begitu keluar rumah malah tampil mengumbar aurat. Ke sekolah nggak pake kerudung dan pakaian jilbab (pakaian terusan�buat anak SMA sebenarnya bisa disambung pakaian atas putih dan bawah abu-abu). Sebaliknya, malah pake rok. Meski rok itu menutupi lutut, tapi kan nggak disebut pakaian muslimah. Padahal, Allah memerintahkan lho untuk mengenakan busana muslimah buat wanita, sebagaimana dalam firmanNya: �Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: �Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka�.. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang.�(QS al-Ahzab [33]: 59)
Yup, kita coba ngasih penjelasan. Begini sobat, jilbab bermakna milh�fah (baju kurung atau semacam abaya yang longgar dan tidak tipis), kain (kis�) apa saja yang dapat menutupi, atau pakaian (tsawb) yang dapat menutupi seluruh bagian tubuh. Di dalam kamus al-Muh�th dinyatakan demikian: Jilbab itu laksana sird�b (terowongan) atau sinm�r (lorong), yakni baju atau pakaian yang longgar bagi wanita selain baju kurung atau kain apa saja yang dapat menutupi pakaian kesehariannya seperti halnya baju kurung.
Nah, kalo mau pengen tahu penjelasan tambahannya, ada juga keterangan dalam kamus ash-Shahh�h, al-Jawh�r� menyatakan: Jilbab adalah kain panjang dan longgar (milh�fah) yang sering disebut mul�ah (baju kurung).
Nah, kapan mengenakan jilbab? Yang pasti kalo seorang muslimah pergi keluar rumah. Atau kalo pun di dalam rumah, saat ada tamu asing (bukan mahrom�tentu laki-laki). Sebab memang tujuannya juga adalah untuk menutup auratnya. Oya, untuk bisa disebut mengenakan busana muslimah, maka seorang muslimah harus mengenakan jilbab lengkap dengan kerudungnya. Begitu deh, secara singkatnya.
Bagi anak laki juga sama. Kalo keluar rumah atau kalo di dalam rumah tapi ada wanita bukan mahrom nggak boleh tuh dipamerin dengkulmu dan udelmu. Karena aurat laki-laki tuh dari pusar sampe lutut. Wah, kayaknya udah pada paham deh. Soalnya nih pernah kita pelajari waktu SD dulu. Tul nggak? Ini sekadar ngingetin aja, gitu lho.
Oya, itu baru kita bahas kewajiban menutup aurat, sementara kewajiban yang dibebankan oleh Allah kepada kita banyak banget. Sebut saja tentang sholat, puasa, zakat, pengaturan kehidupan sosial, ekonomi, pendidikan, budaya, politik, hukum, sampe pemerintahan. Itu baru pokok-pokoknya, belum cabangnya dari situ. Wah, kalo ditulis bisa ngabisin jatah halaman di buletin ini. But, intinya nih, jangan bilang cinta kepada Allah kalo kita doyan menolak kewajiban yang diperintahkanNya, malah berani mengamalkan apa yang diharamkanNya.
Jangan bilang cinta kepada Rasulullah saw….
Jika kita masih melanggar aturan yang ditetapkan Rasulullah saw. Sebab, apa yang disampaikan oleh Rasulullah saw. sejatinya adalah wahyu dari Allah Swt. Ditegaskan oleh Allah Swt. dalam firmanNya: �…kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru. Dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).� (QS an-Najm [53]: 2-4)
Kalo kita masih mengumbar hawa nafsu dengan melakukan aktivitas pacaran, berarti selain melanggar aturan Allah Swt., juga melanggar aturan Rasulullah saw. Dan, tentu aja itu nggak mencintai Allah Swt. dan RasulNya. Allah menjelaskan larangan mendekati zina (lihat QS al-Isra ayat 32). Nah, hadis Nabi juga ada. Beliau saw. bersabda: �Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah tidak melakukan khalwat dengan seorang wanita yang tidak disertai mahromnya. Karena sesungguhnya yang ketiga adalah syaitan.� (HR Ahmad)
Sobat, jangan bilang cinta kepada Rasulullah saw., kalo kita nggak tersinggung ketika ada pihak-pihak yang dengan sengaja melecehkan Rasulullah saw. Aneh banget kan kalo kita ngakunya cinta mati sama Rasulullah saw., tapi kita nggak marah ketika ada orang yang menjelekkan Rasulullah saw.
Seperti kasus pelcehan terhadap Rasulullah saw. yang dilakukan media-media Eropa dalam bentuk kartun yang salah satunya menggambarkan bahwa Muhammad saw. sumber inspirasi kekerasan. Gambarnya adalah sosok lelaki dengan tampang garang dan sorbannya berbentuk bom. Ditulisin di situ dengan jelas dalam bahasa Arab kalimat Muhammad saw. Waduh, kaum Muslimin marah dengan protes baik secara lisan maupun tulisan justru wajar. Karena cintanya kepada Rasulullah saw. Yang parah tuh kalo kita diem aja, terus pura-pura bijak dengan mengatakan bahwa kartun itu sebagai bentuk evaluasi buat umat Islam.
Nggak marah apalagi protes. Aneh banget kan? Macam mana pula tuh orang? Ngakunya sih Muslim. Tokoh intelektual pula di di negeri ini. Sadar Pak!
Jangan bilang cinta kepada Rasulullah saw. jika hanya mengambil sebagian ajarannya dan meninggalkan sebagian besar ajarannya yang lain. Kalo kita cinta kepada Rasulullah saw. berarti harus mengambil seluruh yang dibawanya. Bukan dipilih-pilih sesuai kehendak hawa nafsu kita. Karena Allah Swt. memerintahkan kita untuk mengikuti apa yang dibawa oleh Rasulullah saw. sebagaimana firmanNya:�Apa yang datang (diajarkan) Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.� (QS al-Haysr [59]: 7)
Oke, boleh bilang cinta kepada Rasulullah saw., asalkan kita berani pula untuk menaati segala perintahnya dan meninggalkan segala larangannya. Bohong besar banget kalo kita ngaku-ngaku cinta sama Rasulullah saw. tapi nggak pernah melaksanakan tuntunan ajarannya. Betul ndak?
Jangan bilang cinta sama ortu…
Jika kita masih suka melawannya, mencelanya, merendahkannya, dan bahkan menghinanya. Bohong banget kalo kita ngaku-ngaku cinta sama ortu kita, tapi setiap ortu minta tolong untuk kebaikan kita malah menolaknya. Percuma bilang cinta sama ortu, tapi kalo diingetin untuk kebaikan dan kebenaran kita malah menghardiknya. Anak macam apa itu?
Buktikan kecintaan kita kepada ortu kita adalah dengan berbakti kepadanya. Menghormati mereka, menghargai mereka, menolong mereka, dan membuat mereka bahagia dengan adanya kita. Keberadaan kita yang udah dilahirkan ini bukan menjadi beban mereka. Kasihan ibu kita, sejak mengandung kita, melahirkan kita, merawat dan membesarkan kita, ia tak pernah mengeluh. Ayah kita juga sama. Mencari nafkah dengan semangat untuk keluarganya.
Cinta mereka sepenuh hati buat kita. Sudah terbukti kok. Karena sampe sekarang aja, meski kita bandel, ibu dan ayah kita tetap mendoakan agar kita mendapat petunjuk sambil terus membimbing kita (meski kadang menurut kita terlihat seperti orang yang cerewet). Tuh, gimana nggak penuh cinta. Jadi, kitanya sendiri nih yang kudu membuktikan bahwa kita cinta kepada ibu dan ayah kita dengan cara berbakti kepadanya. Itu sebabnya, jangan bilang cinta kalo kita tak menghargainya, tak berbakti kepada mereka. Oke?
Jangan bilang cinta kepada kaum Muslimin…
Jika kita nggak mau bekerjasama saling mengingatkan dalam kebenaran dan saling membantu jika di antara kita mengalami kesusahan. Bohong banget ngaku-ngaku cinta kepada sesama kaum Muslimin, tapi ketika ada saudara seakidah kita minta tolong malah dicuekkin. Apalagi sesama aktivis dakwah, mentang-mentang beda kelompok dakwah, lalu nggak mau menolong jika beda kelompok dakwah. Lebih parah lagi jika para aktivis dakwah itu masih sodara kandung. Karena kakaknya beda kelompok dakwah dengan adiknya, lalu ketika mereka membutuhkan pertolongan malah disuruh minta ke temen-temen dari kelompok dakwah masing-masing. Yee.. mana ukhuwahmu? Bohong banget ngaku-ngaku cinta sesama Muslim tapi dengan sesama kaum Muslimin sendiri nggak mau menolong hanya karena yang akan ditolong beda kelompok dakwah. Kalo gitu caranya, jangan bilang cinta kepada kaum Muslimin. Sadar ye akhi wa ukhti…
Jangan bilang cinta kepada diri sendiri…
Jika kita senang menjerumuskan diri dalam bahaya dan kerusakan. Bohong banget bilang cinta ama diri sendiri, tapi setiap hari kita nenggak minuman keras, sering juga mengkonsumsi narkoba, tubuh kita dipenuhi tattoo. Bahkan banyak di antara kita yang mengumbar auratnya dan dipajang di sampul majalah porno atau joget-joget kayak cacing kepanasan mempertontonkan keindahan tubuhnya di layar televisi (termasuk mereka yang menjerumuskan tubuh-tubuh mereka dalam perzinahan).
Menurut saya, mereka adalah orang-orang yang nggak cinta pada dirinya sendiri. Kalo dipikir-pikir, memang sih tubuh kita ya tanggung jawab kita sepenuhnya. Mau diapakan saja terserah kita. Wong, itu tubuh kita. But, kita kudu ingat sobat. Bahwa tubuh kita bukan milik kita. Tubuh kita sejatinya milik Allah Swt. Jadi, tuh tubuh kudu kita pelihara dan dijaga sesuai aturan dari yang menciptakan kita, yakni Allah Swt.
Itu sebabnya, ada larangan bunuh diri, larangan mengkonsumsi narkoba, larangan mentato badan, larangan mempertontonkan aurat di muka umum dll. Iya kan?
Oke deh, moga renungan sederhana ini bisa ngingetin kita untuk mengevaluasi kehidupan kita: Apa benar kita udah cinta banget sama Allah, RasulNya, ortu kita, kaum Muslimin, dan cinta kepada diri kita sendiri jika kita masih berperilaku yang justru menggambarkan bentuk pengkhianatan terhadap cinta yang kita ikrarkan?
Semoga kita menjadi orang-orang yang benar-benar mencintai Allah Swt., RasulNya, ortu kita, kaum Muslimin, dan diri kita sendiri. Nah, itu harus dibuktikan dalam pikiran dan perbuatan sesuai tuntunan ajaran Islam. Oke? Semangat!

Selasa, 22 Maret 2011

Ketika-Ikhwan-dan-Akhwat-jatuh-cinta--Nah Loh???

Duh Temanya Cinta Lagi..Cinta Lagi...Habis Gimana Dong...masalah ini kalau nda sering-sering disinggung nanti makin banyak yang kebablas..

Bismillahhirahmanirahim...
Suatu ketika, dalam majelis koordinasi seorang akhwat berkata pada mas’ul dakwahnya, “Akhi, ana ga bisa lagi berinteraksi dengan akhfulan”. Suara akhwat itu bergetar. Nyata sekali menekan perasaannya. Pekan lalu, ikhwan tersebut membuat pengakuan yang membuat ana merasa risih. Afwan, terus terang juga tersinggung. Sesaat kemudian suara dibalik hijab itu mengatakan, “Ia jatuh cinta pada ana”.

Mas’ul trsebut terkejut, tapi ditekannya getar suaranya. Ia berusaha tetap tenang. “Sabar Ukhti, jangan terlalu diambil hati. Mungkin maksudnya tidak seperti yang Anti bayangkan”, Sang mas’ul mencoba menenangkan terutama untuk dirinya sendiri.

“Afwan, ana tidak menangkap maksud lain dari perkataannya. Ikhwan itu mungkin tidak pernah berpikir dampak perkataannya. Kata-kata itu membuat ana sedikit banyak merasa gagal menjaga hijab ana, gagal menjaga komitmen dan menjadi penyebab fitnah. Padahal, ana hanya berusaha menjadi bagian dari perputaran dakwah ini”, sang akhwat kini mulai tersedak terbata.

“Ya sudah ana berharap Anti tetap istiqamah dengan kenyataan ini, ana tidak ingin kehilangan tim dakwah oleh permasalahan seperti ini”. Mas’ul itu membuat keputusan, “Ana akan ajak bicara langsung akh fulan”.

Beberapa Waktu berlalu, ketika akhirnya mas’ul tersebut mendatangi fulan yang bersangkutan. Sang Akh berkata, “Ana memang menyatakan hal tersebut, tapi apakah itu suatu kesalahan?”

Sang mas’ul berusaha menanggapinya searif mungkin. “Ana tidak menyalahkan perasaan Antum. Kita semua berhak memiliki perasaan itu. Pertanyaan ana adalah, apakah Antum sudah siap ketika menyatakan perasaan itu? Apakah Antum mengatakannya dengan orientasi bersih yang menjamin hak-hak saudari Antum? Hak perasaan dan hak pembinaannya. Apakah Antum menyampaikan kepada pembina Antum untuk diseriuskan? Apakah Antum sudah siap berkeluarga? Apakah Antum sudah berusaha menjaga kemungkinan fitnah dari pernyataan Antum, baik terhadap ikhwah lain maupun terhadap dakwah????“, Mas’ul tersebut membuat penekanan substansial.

“Akhi bagi kita perasaan itu tidak semurah tayangan sinetron atau bacaan picisan dalam novel-novel. Bagi kita perasaan itu adalah bagian dari kemuliaan yang Allah tetapkan untuk pejuang dakwah. Perasaan itulah yang melandasi ekspansi dakwah dan jaminan kemuliaan Allah SWT. Perasaan itulah yang mengeksiskan kita dengan beban berat amanah ini. Maka Jagalah perasaan itu tetap suci dan mensucikan”, tambahnya.

*****
Cinta Aktivis Dakwah 
Bagaimana ketika perasaan itu hadir. Bukankah ia datang tanpa pernah diundang dan dikehendaki?

Jatuh cinta bagi aktivis dakwah bukanlah perkara sederhana. Dalam konteks dakwah, jatuh cinta adalah gerbang ekspansi pergerakan. Dalam konteks pembinaan, jatuh cinta adalah naik marhalah pembinaan. Dalam konteks keimanan, jatuh cinta adalah bukti ketundukan kepada sunnah Rosullulah saw dan jalan meraih ridho Allah SWT.

Ketika aktivis dakwah jatuh cinta, maka tuntas sudah urusan prioritas cinta. Jelas, Allah, Rosullah dan jihad fii sabilillah adalah yang utama. Jika ia ada dalam keadaan tersebut, maka berkahlah perasaannya, berkahlah cintanya dan berkahlah amal yang terwujud dalam cinta
tersebut. Jika jatuh cintanya tidak dalam kerangka tersebut, maka cinta menjelma menjadi fitnah baginya, fitnah bagi ummat, dan fitnah bagi dakwah. Karenannya jatuh cinta bagi aktivis dakwah bukan perkara sederhana.

Ketika Ikhwan mulai bergetar hatinya terhadap akhwat dan demikian sebaliknya. Ketika itulah cinta muncul dalam dirinya. Cinta inilah yang akan kita bahas disini. Yaitu sebuah karunia dari kelembutan hati dan perasaan manusia. Suatu karunia Allah yang membutuhkan bingkai yang jelas. Sebab terlalu banyak pengagung cinta ini yang kemudian menjadi hamba yang tersesat. Bagi aktivis dakwah, cinta lawan jenis adalah perasaan yang lahir dari tuntutan fitrah, tidak lepas dari kerangka pembinaan dan dakwah.

Suatu perasaan produktif yang dengan indah dikemukakan oleh ibunda kartini, akan lebih banyak lagi yang dapat saya kerjakan untuk bangsa ini, bila saya ada disamping laki-laki yg cakap, lebih banyak kata saya daripada yang saya usahakan sebagai perempuan yang berdiri sendiri..

Cinta memiliki 2 mata pedang. Satu sisinya adalah rahmat dengan jaminan kesempurnaan agama dan disisi lainnya adalah gerbang fitnah dan kehidupan yang sengsara. Karenanya jatuh cinta membutuhkan kesiapan dan persiapan. Bagi setiap aktivis dakwah, bertanyalah dahulu kepada diri sendiri, sudah siapkah jatuh cinta???
Jangan sampai kita lupa, bahwa segala sesuatu yang melingkupi diri kita, perkataan, perbuatan, maupun perasaan adalah bagian dari deklarasi nilai diri sebagai generasi dakwah. Sehingga umat selalu mendapatkan satu hal dari apapun pentas kehidupan kita, yaitu kemuliaan Islam dan kemuliaan kita karena memuliakan Islam.

Deklarasi Cinta 
Sekarang adalah saat yang tepat bagi kita untuk mendeklarasikan cinta diatas koridor yang bersih. Jika proses dan seruan dakwah senantiasa mengusung pembenahan kepribadiaan manusia, maka layaklah kita tempatkan tema cinta dalam tempat utama. Kita sadari kerusakan prilaku generasi hari ini, sebagian besar dilandasi oleh salah tafsir tentang
cinta. Terlalu banyak penyimpangan terjadi, karena cinta didewakan dan dijadikan kewajaran melakukan pelanggaran. Dan tema tayangan pun mendeklarasikan cinta yang dangkal. Hanya ada cinta untuk sebuah persaingan, sengketa. Sementara cinta untuk sebuah kemuliaan, kerja
keras dan pengorbanan, serta jembatan jalan kesurga dan kemuliaan Allah, tidak pernah mendapat tempat disana.

Sudah cukup banyak pentas kejujuran kita lakukan. Sudah terbilang jumlah pengakuan keutamaan kita, sebuah dakwah yang kita gagas, Sudah banyak potret keluarga yg baru dalam masyarakat yg kita tampilkan. Namun berapa banyak deklarasi cinta yang sudah kita nyatakan. Cinta masih menjadi topik “asing” dalam dakwah kita. Wajah, warna, ekspresi dan nuansa cinta kita masih terkesan misteri. Pertanyaan sederhana, “Gimana sih, kok kamu bisa nikah sama dia, Emang kamu cinta sama dia?”, dapat kita jadikan indikator miskinnya kita mengkampanyekan cinta suci dalam dakwah ini.

Pernyataan ‘Nikah dulu baru pacaran’masih menjadi jargon yang menyimpan pertanyaan misteri, “Bagaimana caranya, emang bisa?”. Sangat sulit bagi masyarakat kita untuk mencerna dan memahami logika jargon tersebut. Terutama karena konsumsi informasi media tayangan, bacaan, diskusi dan interaksi umum, sama sekali bertolak belakang dengan jargon tersebut.

Inilah salah satu alasan penting dan mendesak untuk mengkampanyekan cinta dengan wujud yang baru. Cinta yang lahir sebagai bagian dari penyempurnaan status hamba. Cinta yang diberkahi karena taat kepada Sang Penguasa. Cinta yang diberkahi karena taat pada sang penguasa. Cinta yang menjaga diri dari penyimpangan, penyelewengan dan perbuatan ingkar terhadap nikmat Allah yang banyak. Cinta yang berorientasi bukan sekedar jalan berdua, makan, nonton dan seabrek romantika yang berdiri diatas pengkhianatan terhadap nikmat, rezki, dan amanah yang Allah berikan kepada kita.

Kita ingin lebih dalam menjabarkan kepada masyarakan tentang cinta ini. Sehingga masyarakat tidak hanya mendapatkan hasil akhir keluarga dakwah. Biarkan mereka paham tentang perasaan seorang ikhwan terhadap akhwat, tentang perhatian seorang akhwat pada ikhwan, tentang cinta ikhwan-akhwat, tentang romantika ikhwan-akhwat dan tentang landasan kemana cinta itu bermuara. Inilah agenda topik yang harus lebih banyak dibuka dan dibentangkan. Dikenalkan kepada masyarakat berikut mekanisme yang menyertainya. Paling tidak gambaran besar yang menyeluruh dapat dinikmati oleh masyarakat, sehingga mereka bisa mengerti bagaimana proses panjang yang menghasilkan potret keluarga
dakwah hari ini.

Epilog
Setiap kita yang mengaku putra-putri Islam, setiap kita yg berjanji dalam kafilah dakwah, setiap kita yang mengikrarkan Allahu Ghoyatuna, maka jatuh cinta dipandang sebagai jalan jihad yang menghantarkan diri kepada cita-cita tertinggi, syahid fi sabililah. Inilah perasaan yang istimewa. Perasaan yang menempatkan kita satu tahap lebih maju. Dengan perasaan ini, kita mengambil jaminan kemuliaan yang ditetapkan Rosullulah. Dengan perasaan ini kita memperluas ruang dakwah kita.Dengan perasaan ini kita naik marhalah dalam dakwah dan pembinaan.

Betapa Allah sangat memuliakan perasaan cinta orang-orang beriman ini. Dengan cinta itu mereka berpadu dalam dakwah. Dengan cinta itu mereka saling tolong menolong dalam kebaikan, dengan cinta itu juga mereka menghiasi Bumi dan kehidupan di atasnya. Dengan itu semua Allah berkahi nikmat itu dengan lahirnya anak-anak shaleh yang memberatkan Bumi dengan kalimat Laa Illaha Ilallah. Inilah potret cinta yang sakinah, mawadah, warahmah.

Jadi, sudah berani jatuh cinta??

Kamis, 17 Maret 2011

Musibah itu......Nikmat

Allah Swt. berfirman, “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. ar-Ruum [30]: 41).


Sungguh ajaib. Allah menimpakan musibah kepada manusia, namun ternyata musibah itu berbuah kebaikan. Tidakkah engkau lihat, banyak manusia yang ditimpa musibah, kemudian membuatnya semakin dekat kepada Allah. Ia meratap, menangis, dan memohon kepada Allah agar diselamatkan dan ditolong dari musibah itu, padahal sebelumnya belum pernah melakukannya. Seolah musibah itu “menyeretnya” kepada Allah. Musibah telah merubah besi berkarat menjadi emas murni. Musibah telah merubah orang jahat menjadi baik dan si durhaka menjadi taat.

Duhai sahabatku, jika Allah memberi musibah kepadamu, bukan berarti Dia benci kepadamu. Justru Dia telah menunjukkan kasih sayang-Nya kepadamu. Dia mengingatkanmu untuk segera kembali, memohon kepada-Nya, banyak mengingat-Nya, dan beristighfar atas segala kesalahan yang pernah engkau lakukan. Siapakah orang yang tidak ingin diingatkan apabila didepannya ada jurang yang menganga? Siapakah orang yang tidak ingin ditegur apabila yang dilakukannya itu salah?

Demikianlah cara Allah mengingatkan kita. Dengannya, kita pun kembali kepada-Nya. Dan Allah sangat senang dengan orang yang “kembali” melebihi seseorang yang menemukan kembali ontanya yang telah hilang di padang pasir.